MAKASSAR – Suasana salah satu warung kopi di wilayah Kecamatan Mamajang tampak berbeda pagi ini. Bukan sekadar tempat melepas penat, warkop tersebut menjadi saksi bisu dimulainya era baru kepemimpinan di tingkat kecamatan dan kelurahan. Camat Mamajang yang baru saja dilantik, didampingi oleh Lurah Parang dan Lurah Bontolebang yang juga baru menjabat, menggelar pertemuan santai bertajuk silaturahmi bersama tokoh masyarakat dan warga setempat.

Mendengar Lewat “Dialektika Warkop” tanpa sekat birokrasi yang kaku, pertemuan ini berlangsung penuh keakraban. Sambil menyeruput kopi, Camat Mamajang membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi warga untuk menyampaikan aspirasi mereka. Langkah menggandeng Lurah Parang dan Lurah Bontolebang dalam kunjungan ini bertujuan untuk menyelaraskan visi-misi pelayanan publik di tingkat paling bawah.

“Warkop adalah ruang publik paling jujur. Di sini kita bisa mendengar apa yang benar-benar dirasakan warga tanpa ada yang ditutup-tutupi. Saya ingin Lurah Parang dan Lurah Bontolebang langsung tancap gas mengenali wilayah dan warganya,” ujar Camat Mamajang.

Dengan akselerasi Pelayanan memastikan transisi kepemimpinan di Kelurahan Parang dan Bontolebang tidak menghambat urusan administrasi warga.Fokus pada kebersihan drainase dan penerangan jalan di lorong-lorong kedua kelurahan tersebut. Memperkuat komunikasi antara warga, RT/RW, dan pihak kelurahan untuk menjaga ketertiban wilayah.

Kehadiran tiga sosok pemimpin baru ini disambut antusias oleh warga Kelurahan Parang dan Bontolebang. Salah satu tokoh masyarakat menilai, gaya komunikasi persuasif di warkop seperti ini jauh lebih efektif dalam menyerap masalah lapangan dibanding pertemuan formal di kantor.

“Kami merasa dihargai karena bapak Camat dan para Lurah baru mau datang langsung duduk bersama kami. Ini awal yang bagus untuk kolaborasi ke depan,” ungkap salah seorang warga yang hadir.