MAROS — Suasana sakral dan penuh kebersamaan menyelimuti pelaksanaan tradisi adat Katto Bokko yang digelar di Istana Balla Lompoa, Kassikebo, Kelurahan Bajubodoa, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tradisi turun-temurun ini kembali menjadi momentum penting dalam menjaga nilai budaya sekaligus mempererat tali silaturahmi masyarakat adat.

Dalam kegiatan tersebut, Camat Maros Baru, Rudi, S.IP., M.M, hadir tidak hanya sebagai pimpinan wilayah, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar Karaeng Marusu. Kehadirannya memiliki makna ganda, mengingat beliau merupakan cucu dari almarhum H. A. Abd. Mannan Karaeng Bombong serta putra dari H. A. Syarifuddin Karaeng Esa.

Katto Bokko sendiri merupakan upacara adat syukuran panen raya padi yang menjadi warisan budaya masyarakat adat Kekaraengan Marusu. Prosesi ini melibatkan berbagai tahapan sakral, mulai dari pemanenan padi secara tradisional, arak-arakan padi menuju rumah adat Balla Lompoa, hingga ritual penyimpanan benih sebagai simbol keberlanjutan kehidupan dan pertanian.

Tradisi ini juga sarat makna filosofis, di mana padi yang diarak bukan untuk langsung dikonsumsi, melainkan disimpan sebagai benih untuk musim tanam berikutnya. Hal ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga keberlangsungan sumber pangan.

Selain menghadiri prosesi utama Katto Bokko, Rudi juga turut serta dalam kegiatan silaturahmi yang digelar pada malam harinya. Acara tersebut dihadiri oleh Dewan Adat, pemangku adat, rumpun keluarga besar, para petani, buruh tani, serta berbagai elemen masyarakat.

Dalam sambutannya sebagai Camat Maros Baru, Rudi menyampaikan permohonan maaf mewakili Pemerintah Kabupaten Maros atas berbagai kekurangan yang mungkin terjadi selama pelaksanaan kegiatan.

“Sebagai perwakilan pemerintah, kami menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjaga keberlangsungan tradisi adat tersebut.

“Sebagai bagian dari keluarga besar Karaeng Marusu, saya berharap kegiatan Katto Bokko ini tidak selalu bergantung pada pihak lain. Dengan kerja sama dan kekompakan keluarga besar kakaraenganga di Marusu, tradisi ini akan terus lestari dan terselenggara dari generasi ke generasi,” tambahnya.

Katto Bokko bukan sekedar seremoni adat, tetapi juga menjadi simbol kuat dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah. Tradisi ini juga menjadi ruang pelestarian budaya, memperkuat identitas lokal, serta menjaga nilai gotong royong di tengah arus modernisasi.

Sebagai bagian dari rangkaian tradisi Appalili, Katto Bokko menegaskan bahwa masyarakat Marusu tetap memegang teguh warisan leluhur, sekaligus membuktikan bahwa budaya lokal mampu bertahan dan relevan di era masa kini.