Wajo, Sulsel– Lapangan Kantor Bupati Wajo menjadi tempat yang penuh makna bagi masyarakat Kabupaten Wajo. Diawali dengan ratusan jemaah yang menengadahkan tangan memohon turunnya hujan melalui Salat Istisqa, lalu melanjutkan dengan mengenang jejak pengabdian seorang ulama besar dalam Ngaji Perdana 2026 Pondok Pesantren As’adiyah yang dirangkaikan dengan Haul ke-40 AG. KH. M. Yunus Martan. Selasa (28/7/2026).
Dalam dua agenda tersebut, Menteri Agama Republik Indonesia Prof. KH. Nasaruddin Umar didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. Ali Yafid, S.Ag., M.Pd.I., bersama jajaran Kementerian Agama dan pemerintah daerah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Salat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Wajo yang diikuti ratusan jemaah. Pemerintah Kabupaten Wajo diwakili oleh Wakil Bupati Wajo, dr. H. Baso Rahmanuddin, MM, M.Kes., bersama unsur Forkopimda, tokoh agama, ASN, serta masyarakat yang hadir memohon rahmat Allah SWT di tengah musim kemarau.
Dalam khutbahnya, Menteri Agama mengajak masyarakat menjadikan Salat Istisqa bukan sekadar ikhtiar memohon hujan, tetapi juga momentum untuk menyampaikan, memperbanyak syukur, memperbaiki diri, menjaga lingkungan, dan memperkuat kepedulian sosial.
Menag mengingatkan bahwa turunnya hujan merupakan bagian dari rahmat Allah SWT yang harus disambut dengan keimanan dan ketakwaan.
“Kalau kita belum mampu memperbaiki masyarakat, perbaikilah keluarga kita. Jika belum mampu memperbaiki keluarga, maka jangan pernah berhenti memperbaiki diri sendiri,” pesan Menteri Agama.
Khutbah tersebut terasa begitu haru ketika Menag mengenang masa kecilnya sebagai santri As’adiyah. Ia menceritakan peristiwa tahun 1972 saat Kabupaten Wajo mengalami paceklik berkepanjangan. Kala itu, AG. KH. M. Yunus Martan mengajak seluruh jemaah melakukan qunut nazilah dalam Salat Jumat untuk memohon hujan.
“Saya menjadi Saksi. Saat Guruta memimpin doa, langit yang semula cerah tanpa awan tiba-tiba menurunkan hujan deras. Itulah karamah AG. KH. M. Yunus Martan yang tidak pernah saya lupakan,” kenangnya.
Kenangan itu seolah-olah jembatan menjadi menuju agenda berikutnya di Kampus III Pondok Pesantren As’adiyah Macanang, Sengkang, tempat digelarnya Ngaji Perdana 2026 dan Haul ke-40 AG. KH. M. Yunus Martan.
Di hadapan para santri, alumni, tokoh agama, dan masyarakat, Menteri Agama mengungkapkan rasa syukurnya pernah dididik di As’adiyah. Ia mengenang bagaimana AG. KH. M. Yunus Martan membimbingnya dalam kelas khusus bahasa Arab serta menanamkan semangat keilmuan yang terus mengiringi perjalanan pengabdiannya hingga dipercaya memimpin Kementerian Agama RI.
Menag juga menegaskan bahwa As’adiyah telah melahirkan banyak tokoh nasional. Menurutnya, kehadiran alumni As’adiyah di berbagai posisi strategis merupakan buah dari pendidikan yang dibangun dengan keikhlasan, disiplin, dan keteladanan para guru.
Sementara itu, Kakanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, menilai dua agenda tersebut menyampaikan satu pesan yang utuh. Salat Istisqa mengajarkan umat untuk menggantungkan harapan kepada Allah SWT, sedangkan Ngaji Perdana dan Haul AG. KH. M. Yunus Martan mengingatkan pentingnya menjaga mata rantai ilmu yang diwariskan para ulama.
“Doa adalah kekuatan spiritual, sedangkan ilmu adalah cahaya peradaban. Hari ini kita menyaksikan keduanya bertemu di Wajo. Semoga semangat yang diwariskan para ulama terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam membangun umat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia,” ujar Ali Yafid.
Rangkaian kegiatan tersebut menghadirkan pesan yang mendalam. Dari tempat ratusan jemaah mengundang turunnya hujan hingga pesantren yang merawat warisan keilmuan ulama, Wajo menjadi ruang pertemuan antara doa, ilmu, dan keteladanan. Pesan itulah yang dibawa Menteri Agama bersama Kakanwil Kemenag Sulsel: bahwa ikhtiar kepada Allah SWT harus selalu berjalan seiring dengan upaya menjaga ilmu, akhlak, dan warisan para ulama bagi generasi yang akan datang.
Courtesy : Humas Kemenag Sulsel