Makassar–Ruang virtual di Zoom tidak sekadar menjadi tempat orang saling menyapa, menyalakan mikrofon, lalu bergantian mempresentasikan slide. Di dalamnya, ada sesuatu yang lebih hidup: semangat yang terasa organik, rasa ingin tahu yang saling menyambar, dan keyakinan bahwa masa depan Indonesia tidak akan dibangun oleh satu disiplin ilmu sendirian. Indonesia Collaborative Forum 2026 dengan tema Indonesia 6.0: Perspektif
Nanoedubiotechnomedicoeconopreneurship (NEBTMEP) hadir bukan sebagai webinar biasa, melainkan sebagai cermin dari satu kecenderungan zaman: bahwa ilmu pengetahuan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan kewirausahaan kini makin sulit dipisahkan satu sama lain. Dalam forum ini, semuanya bertemu dalam satu percakapan besar.
Yang membuatnya menarik, kisah forum ini bukan hanya tentang isi materi yang kompleks atau deretan narasumber yang mentereng. Ia juga tentang akselerasi. Tentang bagaimana sebuah kegiatan yang disiapkan dalam waktu kurang dari sepekan, dan pada awal pembukaan registrasi bahkan disebut masih diikuti kurang dari 10 orang, justru melesat menjadi forum dengan 325 pendaftar dan 214 partisipan aktif. Di zaman ketika perhatian publik mudah tercerai-berai, angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah cerita tentang daya jangkau ide, tentang kerja kolaboratif, dan tentang bagaimana sebuah gagasan yang terasa relevan bisa bergerak cepat dari pinggir menjadi pusat percakapan.
Di situlah letak daya pikat forum ini: ia lahir dari keterbatasan waktu, tetapi tumbuh dari kelimpahan energi. Dari sisi jurnalistik, kisah semacam ini selalu menarik karena ia memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawibahwa terkadang sebuah gerakan besar tidak selalu berangkat dari panggung megah, melainkan dari keberanian untuk memulai meski dalam keadaan serba singkat. Dari sisi akademik, forum ini juga penting karena menunjukkan bahwa publik, terutama kalangan pelajar, akademisi, praktisi kesehatan, dan jejaring komunitas, masih memiliki selera yang
kuat terhadap forum ilmu yang tidak sempit, tidak eksklusif, dan tidak membatasi diri pada kotak-kotak disiplin.
Tujuh narasumber yang hadir dalam kegiatan ini datang dari spektrum ilmu yang berbeda, tetapi benang merahnya jelas: semuanya berbicara tentang masa depan. Novi Irmania, Ph.D. membawa peserta masuk ke horizon The Art of Nanotechnology 6.0, sebuah lanskap tempat nanoteknologi tak lagi dipahami sebagai sekadar sains material skala kecil, melainkan sebagai platform cerdas yang terhubung dengan kecerdasan buatan, biologi molekuler, dan sistem kesehatan digital. Dalam perspektif itu, dunia nano bukan lagi dunia yang hanya bicara partikel dan formulasi, tetapi dunia yang mulai menyentuh cara tubuh didiagnosis, dipantau, dan diterapi secara lebih presisi.

Di sisi lain, Kholis Abdurachim Audah, Ph.D. memaparkan The Art of Bioinformatics 6.0, yang menempatkan bioinformatika sebagai infrastruktur intelektual zaman ini. Bukan sekadar alat bantu komputasi, melainkan mesin yang memungkinkan data biologisdari genom, transkriptom, proteom, hingga metabolomdibaca sebagai satu arsitektur makna. Dalam bahasa yang lebih sederhana, bioinformatika adalah cara masa kini memahami kehidupan melalui data, dan forum ini menunjukkan bahwa masa depan kesehatan tidak hanya akan ditentukan oleh apa yang terlihat di klinik, tetapi juga oleh apa yang dapat diurai dari lapisan-lapisan informasi biologis.
Lalu hadir Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D., yang membumikan pembicaraan tentang farmakogenetika dan farmakogenomika ke dalam konteks Indonesia. Ini adalah topik yang tampak rumit, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan hidup banyak orang: mengapa obat yang sama bisa bekerja berbeda pada orang yang berbeda? Mengapa sebagian pasien merespons baik, sementara yang lain mengalami efek samping atau tidak memperoleh manfaat optimal? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak lagi cukup dijawab oleh dosis standar semata. Ia menuntut pembacaan yang lebih personal terhadap tubuh manusia, termasuk variasi genetik yang
memengaruhi metabolisme obat. Dalam forum semacam ini, sains yang kompleks tidak tampil untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membuka wawasan bahwa masa depan pelayanan kesehatan bergerak menuju terapi yang lebih tepat, lebih aman, dan lebih manusiawi.