Saya datang baik-baik mau minta maaf, tapi dia tidak mau terima. Bahkan tidak mau berjabat tangan,” ungkapnya
Hal ini memperlihatkan bahwa konflik telah memasuki fase yang lebih serius dan sulit diselesaikan secara informal.
Anak Jadi Korban Psikologis
Kasus ini tidak hanya menyangkut dugaan penganiayaan, tetapi juga membuka persoalan lebih dalam terkait dampak konflik terhadap anak di bawah umur
Anak yang dituduh mencuri disebut mengalami tekanan mental akibat tuduhan dan perlakuan lingkungan sekitar. Bahkan, orang tua mengaku sempat memarahi anaknya karena tekanan situasi.
Fenomena ini menjadi alarm serius bahwa konflik antar orang dewasa kerap menyeret anak sebagai korban, baik secara langsung maupun tidak langsung
Catatan Kritis: Konflik Sosial dan Sensitivitas Hukum
Kasus ini mencerminkan bagaimana persoalan sepele di lingkungan masyarakat bisa berkembang menjadi konflik hukum serius. Tuduhan tanpa bukti yang kuat, ditambah dengan provokasi verbal, berpotensi memicu tindakan emosional yang berujung pidana.
Di sisi lain, aparat penegak hukum diharapkan mampu menangani kasus ini secara objektif, terutama karena melibatkan anak di bawah umur yang secara hukum memiliki perlindungan khusus.
Diksiber Sulawesi menegaskan:Kasus ini harus menjadi pelajaran penting bagi masyarakat bahwa penyelesaian konflik secara bijak dan tanpa emosi adalah kunci menjaga harmoni sosial. Ketika emosi mengambil alih, hukum menjadi panggung akhir yang tak terhindarkan.(*)