LUWU TIMUR — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi digital untuk menjawab kebutuhan pengelolaan sampah di tingkat desa.
Melalui Zahwa, mahasiswa KKN Unhas memperkenalkan SIPANDA (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Desa) dalam kegiatan yang digelar di Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Senin (10/8/2026).
SIPANDA merupakan sistem berbasis website yang dirancang untuk membantu pengelolaan sampah desa agar lebih tertata, terdokumentasi, dan berkelanjutan. Inovasi ini tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan administratif dan pengelolaan data yang ditemukan di lapangan.
Pengembangan SIPANDA berawal dari hasil pengamatan Zahwa terhadap sistem pengelolaan sampah di Desa Puncak Indah yang masih membutuhkan penguatan, khususnya dalam hal administrasi, pencatatan, dan dokumentasi data.
Melalui SIPANDA, sejumlah proses pengelolaan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi. Mulai dari pendataan masyarakat, pencatatan iuran, penimbangan dan penjualan sampah, hingga penyusunan laporan dapat dikelola dalam satu sistem.
Zahwa mengatakan, SIPANDA dikembangkan bukan semata-mata untuk memenuhi luaran program kerja KKN, melainkan berangkat dari kebutuhan nyata yang ditemui selama berada di desa.
Menurutnya, pemanfaatan sistem digital diharapkan dapat membantu pengelola sampah maupun pemerintah desa memiliki data yang lebih rapi dan mudah diakses, sekaligus mempermudah proses monitoring serta penyusunan laporan.
Inovasi tersebut mendapat respons positif dari berbagai pihak. Perwakilan PT Vale Indonesia, Darwis, turut mengapresiasi pengembangan SIPANDA yang dinilai memiliki potensi untuk mendukung tata kelola sampah di tingkat desa.
“Ini merupakan inovasi yang bagus dan dapat membantu pengelolaan sampah di desa agar lebih tertata. Sistem seperti ini juga memiliki potensi untuk terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan desa,” ujar Darwis.
Antusiasme juga terlihat dari masyarakat Desa Puncak Indah. Dalam kegiatan pengenalan SIPANDA, masyarakat aktif berdiskusi dan menunjukkan ketertarikan terhadap sistem yang diperkenalkan.
Salah seorang warga bahkan mempertanyakan alasan Zahwa memilih pengelolaan sampah sebagai objek inovasi berbasis digital.
Menjawab pertanyaan tersebut, Zahwa menjelaskan bahwa gagasan SIPANDA muncul setelah melihat langsung kebutuhan pengelolaan sampah di Desa Puncak Indah.
Ia menilai, digitalisasi dapat menjadi salah satu cara untuk membuat data pengelolaan sampah tersimpan secara lebih sistematis, mempermudah monitoring, serta membantu proses pelaporan agar lebih efektif.
Zahwa berharap SIPANDA tidak berhenti sebagai produk program KKN setelah mahasiswa meninggalkan desa. Ia ingin sistem tersebut dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh Pemerintah Desa Puncak Indah bersama pengelola sampah.
“Harapannya, SIPANDA bisa terus digunakan dan dikembangkan sesuai kebutuhan desa, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” demikian harapan Zahwa.
Kehadiran SIPANDA menjadi salah satu contoh bagaimana program KKN dapat menghasilkan inovasi yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat. Dengan memadukan teknologi dan kebutuhan pengelolaan lingkungan, inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong terciptanya tata kelola sampah desa yang lebih efektif, transparan, terdokumentasi, dan berkelanjutan.
PENULIS: Qhalil Ayyilah Azzahwa